LANSIA
Menurut Effendi, 2009, LANSIA adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis . menurut Ratnawati, 2017, Lansia ialah seseorang yang telah berusia > 60 tahun dan tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Pada umumnya para lansia sudah terpola untuk berpikir ingin hidup tenang di hari tua, duduk-duduk tanpa beban, hanya bermain dengan para cucu, reunian, jalan-jalan ke sana ke mari dan ingin hidup di zona nyaman. Atau hanya berpikir menghabiskan masa tua hanya dengan shalat dan membaca Al-Quran dari waktu ke waktu, tanpa kegiatan lain.
Itulah mindset para lansia pada umumnya. Setidaknya itulah fenomena yang terjadi.
Ketika belum memasuki usia pensiun pun, para lansia kerap sudah merasa bukan saatnya untuk aktif. Mereka kehilangan gairah. Bahkan mungkin kehilangan arah, mau apa, mau kemana, untuk apa?.
Hanya ingin hidup tenang di zona nyaman. Hanya ingin bersenang-senang, tak ingin bergerak.
Mereka bahkan cenderung hanya ingin memikirkan diri sendiri. Makin tak peduli dengan sesama. Dan merasa sudah saatnya istirahat.
Bukankah begitu??
Adakah Islam mengajarkan pola pikir semacam itu tentang hari tua?
Alhamdulillah, Allah memberi jawaban dengan firman NYA pada Al Qur'an Surat Al-Insyirah : 7-8.
"Maka apabila engkau sudah selesai mengerjakan satu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh- sungguh urusan yang lain."
"Dan kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap."
Dalam kitab Sirah Nabawiyah dijelaskan, bahwa Rasulullah memulai hidup baru di usia 40 tahun. Demikian pula sahabat-sahabat beliau. Di usia itu, Rasulullah dan para sahabat memasuki perjuangan baru, meninggalkan kenyamanan yang selama ini mereka rasakan
Bukannya bersantai dan stagnan, tapi mereka makin aktif dan dinamis
Mulai usia 53 tahun justru beliau makin aktif membina hubungan dengan sesama manusia.
Tidak hanya hubungan dengan Allah, tapi juga hubungan dengan manusia. Beliau makin bermasyarakat, makin terlibat dalam kehidupan sosial.
Artinya, memasuki usia pensiun bukan alasan untuk melepaskan diri dari kehidupan sosial dan hanya sibuk dengan diri sendiri.
Hingga akhir hayat, Rasulullah SAW tidak pernah diam dan tidak juga ingin beristirahat.
Pensiun beliau saw adalah kematian.
Begitu juga sahabat-sahabat Rasulullah saw yang lain. Mereka pensiunnya setelah wafat.
Konsep pensiun yang umum dipahami masyarakat membuat lupa bahwa bertambah usia itu berarti kesempatan hidup kita makin berkurang.
Manusia sukses versi Islam itu menurut hadist adalah:
“Manusia terbaik di antaramu adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”
Bertambah usia, justru harus makin merambah dunia. Berbagi dan menjadi sosok bermanfaat.
Bukan berpikir untuk hidup santai dan sekadar menghabiskan waktu dengan hal-hal tak jelas.
Lagipula, makin pasif seseorang, makin cepat pikunlah ia.
Alhasil, jika memang ingin mempersiapkan hari tua, selain menyiapkan uang agar tidak berkekurangan, yang lebih penting adalah menyiapkan apa yang bisa dilakukan agar bisa bermanfaat bagi sesama di hari tua, sampai saatnya menutup mata.
Tak ada kata terlambat untuk memulai hidup baru. Tua bukan alasan untuk putus asa dan berhenti.
Jangan merasa tua dan berpikir "bukan saatnya lagi untuk hidup aktif dan dinamis adalah bukan pilihan yang tepat" Justru, harus lebih hidup dan bersemangat.
Tidak ada kata pensiun untuk menjadi manusia sukses di mata Allah SWT. "dan sembahlah Rabbmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu." (QS Al-Hijr : 99.)
Wallahu a'lam...
Tetaplah berguna dan berdaya guna di usia lanjut.
Insyaa Allah...
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Allahummaj'al khaira 'umri akhirahu, wa khaira 'amali khawatimahu, wa khaira ayyami yauma al qaka (ya Allah, jadikanlah sebaik-baiknya umur hamba pada ujungnya, dan jadikanlah sebaik-baiknya amal hamba pada akhir hayat hamba, dan jadikanlah sebaik-baiknya hari hamba pada saat hamba bertemu dengan MU.)
Aamiin ya Rabbal 'aalamiin...
(H.R. Ibnu As-Sunni )
Barakallah fii kum.
By. TRDC. (Group K.B.IMPM MUTARA RAYA)
0 komentar:
Posting Komentar